Kamis, 06 April 2017

BMKG Mengganti Hitungan Kekuatan Gempa dari Richter ke Magnitudo

Diposting oleh cahyo krism
BMKG atau Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika tidak lagi memakai satuan skala richter (SR) untuk menghitung kekuatan gempa. Kini yang dipakai simbol M atau magnitudo.

Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya.


Menurut Kepala Bid. Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono magnitudo dan intensitas adalah salah satu alat untuk mengukur seberapa besar 'size' gempabumi yang terjadi. Namun 2 alat tersebut (magnitudo dan intensitas) mengukur 2 hal yang berbeda dari gempabumi

Magnitudo merepresentasikan kekuatan gempa di sumbernya akibat displacement yang terjadi pada suatu luasan area. Semakin luas dan semakin besar displacementnya maka semakin besar pula magnitudonya.

Hal yang berbeda dengan intesitas gempa, intensitas merepresentasikan dampak gempa yang berupa derajat dirasakan oleh manusia atau derajat kerusakan yang diakibatkan oleh peristiwa gempabumi.

Terkait satuan kekuatan gempa Skala Richter (SR), satuan tersebut sebetulnya unit untuk memberikan apresiasi kepada Richter yamg menemukan tipe magnitudo ML (magnitudo lokal) yang saat itu digunakan untuk mengukur kekuatan gempa-gempa yang terjadi di California dengan instrumen tertentu yaitu Wood Anderson Seismograph.

Kemudian ML digunakan untuk daerah lainnya dengan instrumen yang berbeda seperti sensor broadband dengan mengadopsi fungsi instrumen response dari sensor Wood Anderson. Sehingga kita bisa mengukur magnitudo ML untuk semua lokasi dan satuan ML ini adalah sebenarnya SR. 

Seiring berjalan waktu tipe magnitudo gempa yang baru ditemukan seperti mb, mB, Mw, Ms dan lain-lain. Untuk tipe magnitudo selain ML sudah tidak tepat lagi menggunakan satuan SR," ungkapnya lagi.

Satuan SR ini menjadi melekat sangat kuat di masyarakat. Namun saat ini sistem processing gempabumi telah menyediakan beragam tipe magnitudo seperti yang disebutkan di atas.

Oleh sebab itu kedepannya BMKG menggunakan M sebagai lambang magnitudo tanpa satuan SR dan mulai pelan-pelan melakukan upaya menghilangkan SR dan mengedukasi masyarakat dan media. (source: https://kumparan.com/indra-subagja/bmkg-mengganti-hitungan-kekuatan-gempa-dari-richter-ke-magnitudo)
Read More

Kamis, 30 Maret 2017

Ini Dia Kontruksi Bangunan Tahan Gempa Bumi

Diposting oleh cahyo krism
Konstruksi tahan gempa yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba (KSLL) saat ini sudah digunakan di tanah air. Konstruksi sarang laba-laba terbukti menjadi solusi percepatan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia, khususnya daerah perbatasan.
Praktisi sipil Benny Puspantoro menyebut dalam ilmu sipil, telah dikenal syarat-syarat bangunan yang lebih mampu mengatasi guncangan, misalnya menggunakan denah bangunan yang sederhana dan simetris, bukan bentuk L, U atau T, untuk mengurangi efek momen puntir oleh gaya gempa.

Syarat berikutnya adalah dengan membangun fondasi rumah di atas struktur tanah yang stabil, yaitu tanah yang bertekstur keras, padat dan merata kekerasannya.

Semakin keras struktur tanahnya maka partikel-partikel tanah akan makin sulit bergerak jika terjadi guncangan, dan bangunan di atasnya juga bisa terhindar dari guncangan tersebut.

Selain itu, fondasi dan dinding harus dibangun dengan balok yang mengelilingi bangunan yang saling terikat kokoh dengan kolom serta menggunakan atap yang ringan.

Bahan-bahan seperti kayu dan bambu seperti pada rumah-rumah tradisional memiliki resiko minimal dibanding bahan seperti batu bata dan batako pada rumah modern, karena lebih ringan.

Sedangkan untuk bangunan tinggi seperti gedung perkantoran, mal, apartemen dan infrastruktur seperti jalan dan jembatan di perkotaan sebaiknya menggunakan konstruksi yang memang dirancang tahan guncangan gempa.

Sarang Laba-laba.
Ryantori, pakar konstruksi bangunan asal Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), telah mengembangkan Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) untuk kebutuhan bangunan tahan gempa tersebut.

Konstruksi ini dirancang untuk mampu mengikuti arah gempa baik horisontal maupun vertikal sehingga bangunan tidak akan ambruk karena gempa.

Konstruksi Sarang laba laba (Foto source: https://ekbis.sindonews.com/read/1192253/179/konstruksi-tahan-gempa-lebih-ekonomis-1490705242)
"Konstruksi Sarang Laba-Laba ini satu-satunya sistem fondasi yang terbukti dan teruji mampu menyelamatkan gedung-gedung yang menggunakannya pada saat gempa dahsyat 9,3 Skala Richter yang menghancurkan Aceh, dengan rasio keberhasilan 100 persen," katanya.

Pada 26 Desember 2004 ketika Aceh luluh-lantak oleh gempa, ada 32 gedung yang selamat karena menggunakan KSLL. Kemudian pada 30 September 2009 ketika Padang hancur terkena gempa 8,4 SR terdapat 65 gedung yang 100 persen juga selamat karena menggunakan KSLL.

Ketahanan terhadap gempa menjadi lebih tinggi sebab KSLL merupakan suatu konstruksi yang menyatu, kaku dan saling mendukung antara konstruksi beton dan perbaikan tanah.

Konstruksi berupa beton bertulang menyerupai sarang laba-laba dan tanah yang dipadatkan itu adalah sistem fondasi pertama di dunia yang mampu membuat tanah juga berfungsi sebagai struktur, ujarnya.

Menurut Ryantori, konstruksi yang telah dikembangkannya sejak 1976 itu telah digunakan untuk lebih dari 700 gedung di Indonesia seperti di Aceh, Padang, Bengkulu, Jambi, Sulut, Sulteng, NTB hingga Papua. Sekitar 150 gedung di antaranya sempat terkena gempa, namun bisa tetap kokoh berdiri.

Paten KSLL kini sudah merupakan seri yang ke-3 yang terbit awal 2017 dan menyempurnakan paten seri sebelumnya, yakni seri 1 terbit tahun 1979 dan seri 2 tahun 2007. Paten seri 3 ini telah ditambah perangkat pasak vertikal yang berfungsi meratakan jika terjadi penurunan bangunan, ujarnya.

Pembangunan gedung dengan menggunakan konstruksi ini juga tidak membutuhkan waktu lama, karena tinggal dipasang di lokasi. Selain itu juga lebih hemat karena tidak membutuhkan tiang pancang dalam dan lebih banyak menyerap tenaga kerja, karena tidak ada pekerjaan yang membutuhkan alat berat.

Fondasi ini juga sesuai digunakan sebagai dasar bangunan bertingkat 2 hingga 8 yang dibangun di atas tanah lunak, karena jika terjadi penurunan tanah maka akan merata di semua bidang, karena masing-masing kolom dijepit dengan rusuk-rusuk beton yang saling mengunci.

KSLL telah digunakan antara lain untuk gedung RRI di Surabaya, lapangan kontainer Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kantor dinas perhubungan di Banda Aceh, gedung DPRD Sumbar di Padang, Bandara Hang Nadim Batam, CTI Building di Manado, departemen logistik kepolisian di Jakarta Timur, serta kantor hukum dan HAM Papua.

Konstruksi jenis ini tidak hanya untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan bangunan dan kerugian materi yang cukup besar karena gempa, tetapi juga mencegah kemungkinan korban luka dan tewas tertimpa bangunan.(source:https://m.tempo.co/read/news/2017/03/28/095860392/berikut-kontruksi-bangunan-tahan-guncangan-gempa)
Read More

Kamis, 23 Maret 2017

Gempa Bumi Bali Maret 2017 5.7SR

Diposting oleh cahyo krism
Gempa bumi di Bali yang berkekuatan 5.7 skala Ritcher terjadi pada 22 maret 2017 pukul 06.10 Wita. Gempa bumi bali ini memiliki pusat gempa di laut pada jarak 3 km di sebelah selatan Kuta.

Pada awalnya gepa di bali tersebut diinformasikan berkekuatan 6.34 SR tetapi kemudian dinyatakan kembali bahaw kekuatan gempa di Bali memiliki kekuatan 5.7 SR. Informasi tersebut disampaikan setelah dilakukan analisa kembali terhadap data gempa yang terjadi.


"Tadi pagi terjadi gempa, analisis pertama memang BMKG mengeluarkan informasi 6,4 SR tapi seiring data yang masuk kita analisis lagi gempa tadi itu kekuatannya 5,7 SR," kata Hendra Suarta Kabid Observasi BMKG saat diwawancarai Tribun Bali di Kantornya, Rabu (22/3/2017).

Pusat gempa bumi yag terjadi di pulau Bali itu di wilayah laut 3 Km Selatan Kuta.

Meskipun gempa bumi tersebut berpusat di laut tetapi kekuatannya tidak cukup besar untuk menimbulkan terjadinya Tsunami.

Gempa bumi di Bali tersebut dirasakan masyarakat seluruh Bali dan juga dirasakan di beberapa daerah di dekat Bali seperti Banyuwangi sampai Sumbawa.

"Saat ini BPBD masih melakukan pemantauan di lapangan," kata dia.(source : http://bali.tribunnews.com/2017/03/22/pusat-gempa-pagi-tadi-di-bali-ada-di-perairan-kuta-bukan-64-sr-tapi-ini-kekuatannya)

Gempa Bali berkekuatan 6,4 SR terjadi pada pukul 06.10 Wita. Getaran gempa tersebut terasa hingga Banyuwangi dan Nusa Tenggara Barat.kemudian Banyuwangi, Taliwang, Karangkates, Sawahan, dan Bima dengan skala intensitas I SIG-BMKG (II MMI). Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan oleh hampir semua orang di Provinsi Bali.


"Di Kota Denpasar masyarakat merasakan guncangan kuat selama 5 detik. Masyarakat berhamburan keluar rumah dan ruangan. Kaca jendela bergetar, mobil bergoyang dan sebagian anak-anak menangis. Gempa dirasakan dua kali dengan guncangan kedua lebih keras," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Rabu (22/3/2017).

Posko BNPB telah mengonfirmasi dampak gempa ke BPBD Bali. Dampak gempa Bali yang digambarkan peta tingkat guncangan (shake map) menunjukkan wilayah selatan Bali seperti Kuta, Tabanan, Mataram mengalami guncangan dalam skala intensitas II SIG-BMKG atau III-IV MMI.


Di informasikan juga bahwa masyarakat di Kabupaten Badung, Tabanan, Klungkung, Gianyar, Karangasem, Singaraja, Bangli dan Buleleng merasakan guncangan gempa Bali. Belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa bumi.

"BPBD masih melakukan pemantauan dampak gempa," ujar dia.

Gempa yang terjadi di Bali merupakan pertemuan lempeng Hindia Australia dan Lempeng Eurasia. gempa bumi ini termasuk dalam klasifikasi gempa bumi menengah di Zona Benioff, yaitu lajur lempeng tektonik yang sudah mulai menukik. BMKG melaporkan gempa susulan 3,9 SR juga terjadi. (source : http://news.liputan6.com/read/2894862/gempa-bali-terasa-5-detik-kaca-bergetar-dan-anak-anak-menangis)
Read More

Rabu, 26 Oktober 2016

Gempa 6.1 SR di Italia

Diposting oleh cahyo krism
Gempa bumi su sulan berkekuatan 6,1 SR melanda wilayah Italia tengah pada Rabu (26/10) malam waktu setempat. Akibat gempa bumi susulan tersebut menyebabkan robohnya tiang listrik dan beberapa bangunan runtuh.

Sumber dari Associated Press, diberitakan dua orang mengalami luka luka akibat gempa yang berpusat di Visso itu. Sedangkan lembaga Perlindungan Sipil melaporkan adanya korban jiwa. Berdasarkan laporan Survey Geologi Amerika Serikat (AS), gempa pertama berkekuatan 5,4 SR, disusul 6,1 SR.

Akibat guncangan yang cukup besar tersebut mengakibatkan rumah rumah banyak yang runtuh,.
 

Gempa susulan yang cukup besar tersebut menyebabkan bagian depan sebuah gereja, runtuh. Gampa ini merupakan yang terkuat yang pernah dirasakan.

Saat terjadi gempa sususlan Italia banyak orang berlarian dan berteriak ketakutan. Kondisi kota gelap akibat aliran listrik yang padam. Gempa susulan tersebut berdampak sangat besar terhadap bangunan gereja dan bangunan tua yang mengalami kerusakan.

Sebenarnya daerah tersebut yang mengalami kerusakan, merupakan kawasan terlarang. Tepatnya, setelah gempa yang meratakan tiga kota pada 24 Agustus lalu. Rinaldi menyatakan pemerintah meliburkan sejumlah sekolah di daerahnya. Sebab, hal senada juga dilakukan di beberapa kota lainnya pada Kamis (27/10).

Beberapa bangunan mengalami kerusakan. Balum ada laporan korban jiwa maupun luka-luka. Wilayah gempa kondisi gelap dan hujan menghambat proses pendataan.

Pusat vulkanologi Nasional Italia merilis, gempa pertama kali terjadi pukul 19.10 waktu setempat. Pusat gempa berada di daerah Macerata, dekat Perugia yang merupakan kawasan rawan gempa Gunung Apennine.

Survei Geologi AS mencatat, pusat gempa berada di dekat Visso, sekira 170 km timur laut Roma dengan kedalaman sekira 10 km. Gempa susulan terjadi sekitar dua jam kemudian, tepatnya pada 21.18 waktu setempat dengan kedalaman yang sama.
Read More

Senin, 11 Juli 2016

Gempa Bumi Bengkulu 12 Juli 2016

Diposting oleh cahyo krism
Gempa dengan kekuatan 5 SR telah mengguncang daerah Bengkulu pada dinihari tadi. Getaran gempabumi tersebut sampai terasa pada 5 wilayah berbeda.
 
Dijelaskan oleh Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono bahwa terjadinya gempa ini berpusat di laut 111 km sebelah barat daya Seluma, pada kedalaman 69 km.

Getaran gempabumi Bengkulu itu juga dirasakan di beberapa wilayah seperti di Mukomuko, Ketaun, Bengkulu, Seluma, Mana, dan Bintuhan. 

Guncangan gempa bumi dirasakan oleh banyak orang yang mengakibatkan benda-benda tergantung berayun dan kaca jendela bergetar.

Dari hasil analisis yang dilakukan oleh BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Bengkulu itu adalah gempa bumi kedalaman menengah yang diakibatkan adanya aktivitas subduksi lempeng. 

Subduksi lempeng ini merupakan kejadian menyusupnya lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dalam hal ini hiposenter gempa bumi berada di Zona Benioff, yaitu bagian lempeng tektonik (slab) yang sudah mulai menukik di bawah permukaan lepas pantai Bengkulu.

Walaupun pusat gempa ada di laut tetapi tidak berpotensi tsunami dikarenakan kekuatan gempa tergolong lemah.

Sampai dengan pukul 04.00 WIB, belum ada laporan adanya gempa susulan. 

Oleh sebab itu kepada masyarakat di Pesisir Provinsi Bengkulu dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggungjawab karena gempa bumi ini tidak berpotensi merusak.

Kepala Bidang Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Seluma, Bengkulu, Mulyadi mengatakan, pihaknya belum menerima laporan kerusakan bangunan rumah, sarana kesehatan, sarana ibadah, maupun sarana pendidikan di wilayah itu akibat gempa. Sekadar diketahui, gempa tektonik berkekuatan 5,3 skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Seluma, Bengkulu.

Dari laporan sementara oleh para relawan dan tim reaksi cepat (TRC) hingga pagi ini belum ada dampak kerusakan

Gempabumi Bengkulu itu berlokasi di 4.82 Lintang Selatan, 102.07 Bujur Timur yang berada di 111 km barat daya Seluma dengan kedalaman 65 kilometer itu memang dirasakan cukup kencang.

Gempa bumi terjadi pada subuh saat masih banyak warga tertidur sehingga tidak begitu banyak warga keluar rumah.

Gempa yang dirasakan memang kencang. Namun, sekarang masyarakat sudah beraktivitas seperti biasanya.

Sebagaimana diketahui, gempa tektonik berkekuatan 5,3 SR yang berpusat di Kabupaten Seluma, terjadi pada Selasa (12/7/2016), sekira 03.28 WIB. Guncangan gempa tersebut terasa hingga di lima kabupaten/kota di Bengkulu, seperti Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur.

Gempa 5,3 skala Richter (SR) yang mengguncang, Seluma, Bengkulu, juga terasa di lima kabupaten/kota lainnya. Kabupaten/kota yang terasa getaran gempa yang terjadi pada Selasa (12/7/2016) dini hari itu adalah Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, dan Kabupaten Kaur.

Gempa bumi Bengkulu yang terletak pada koordinat 4.82 Lintang Selatan dan 102.07 Bujur Timur itu secara umum terjadi di sepanjang wilayah Pesisir Bengkulu, dalam skala intensitas II SIG BMKG (II-III MMI-Modified Mercally Intensity).

Gempa yang berjarak sekira 111 kilometer arah barat daya Seluma dengan kedalaman hiposenter 65 kilometer itu merupakan gempa bumi kedalaman menengah. Hal itu akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Pusat gempa bumi Bengkulu ini terletak di laut karena kekuatannya relatif kecil dan terjadi di kedalaman menengah. maka Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
Read More

Jumat, 08 Juli 2016

Gempa Bumi Papua 09 Juli 2016

Diposting oleh cahyo krism
kembali Papua diguncang gempa, Gempa bumi terbaru ini memiliki kekuatan 5,0 Skala Richter (SR). Gempa bumi di papua ini dilaporkan mengguncang Kabupaten Sarmi pada hari sabtu dinihari pukul 03 dinihari.

Dari hasil pengolahan data yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 03.08.30 WIT.


Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 09 Juli 2016 ini memiliki pusat gempa (episentrum) yang ada di titik 1.82 Lintang Selatan dan 139.14 Bujur Timur, dengan Hiposentrum di laut 72 kilometer Barat Laut Kabupaten Sarmi Provinsi Papua, dengan kedalaman 10 Km.

Belum diketahui adanya korban materi maupun jiwa akibat Gempa Bumi Papua 09 Juli 2016 tersebut.
Read More

Rabu, 22 Juni 2016

Gempa Papua 22 Juni 2016

Diposting oleh cahyo krism
Gempa bumi terbaru terjadi pada rabu dini hari tanggal 22 juni 2016 dimana gempa tersebut  telah menggunjang papua termasuk kota Jayapura dan sekitarnya.

Hasil pengolahan data gempa yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura menyatakan gempa terjadi sekira pukul 07.17 WIT. Titik gempa ada di 2.25 LS fan 140.58 BT.

Gempa bumi terbaru di papua ini disebabkan karean adanya aktivitas pertemuan antara Lempeng Pasifik dengan Lempeng Indo-Australia. Pertemuan kedua lempeng ini menyebabkan terjadinya cukup banyak kejadian gempa di sekitar tempat batas pertemuan lempeng.


Gempa bumi di Papua tersebut tidak berpotensi menimbulkan terjadinya tsunami dan diperkirakan juga kecil kemungkinan terjadi lagi gempa bumi susulan. Walaupun terjadi gempa bumi susulan, biasanya kekuatan gempa susulan memiliki kekuatan lebih kecil dari gempa utama 4,2 SR yang baru saja terjadi.

Lokasi gempa papua pada 22 juni 2016 dini  hari tersebut berada di laut pada jarak 34 kilometer Barat Laut Kota Jayapura. Sedangkan pusat terjadi pada kedalaman 10 kilometer di bawah laut.

Gunjangan gempa yang terjadi di Papua tersebut telah membuat beberapa orang yang sedang berada di dalam rumah berhamburan keluar. Walaupun demikian dipastikan akibat gempa itu tidak ada kerusakan yang terjadi.
Read More